Pengelola


Salam Logistik

Portal INAPORTNET dibuat untuk mengintegrasikan layanan pemerintah, badan usaha serta swasta di pelabuhan pelabuhan Indonesia dengan satu tujuan agar pelaku usaha logistik Indonesia mendapatkan layanan yang cepat, efisien, transparan dan berkualitas.

Tentu, cita cita besar itu tidak langsung dapat diwujudkan. Terdapat banyak jenis dan pelaku usaha yang terlibat serta dunia logistik yang sangat luas, membuat visi tersebut hanya dapat diwujudkan dalam jangka panjang (3-5 tahun). Namun harus ada yang memulai. Untuk itu Kementerian Perhubungan bersama IPC (Pelindo 2) memutuskan untuk memulai dari PRIOK untuk layanan kepelabuhanan baik dari Kementerian Perhubungan maupun dari IPC dan pada tahap berikutnya mengintegrasikan dengan layanan instansi lain nya.

Mengapa PRIOK? disamping karena barometer perekonomian nasional (pelabuhan terbesar dan hub ekspor-impor), di Priok juga beroperasi secara lengkap pelaku dunia logistik dengan spektrum yang luas baik dilihat dari sisi skala atau dari sisi kesiapan sistem operasional sehingga eksposure sistem dapat teruji dengan cepat.

Indonesia membutuhkan portal elektronis untuk e-trade logistik segera. Benchmark di negara negara yang maju logistik nya membuktikan hal itu dan kita segera memasuki pasar bebas ASEAN. Pemerintah melalui SISTEM LOGISTIK NASIONAL (SISLOGNAS) juga jelas jelas mengamanatkan tersedianya portal elektronis logistik ini.

Dalam implementasinya, IPC bergerak cepat dengan merancang, membangun dan mencoba terbangunnya portal elektronis tersebut dengan menugaskan anak perusahaan IPC-TELKOM, PT INTEGRASI LOGISTIK CIPTA SOLUSI, yang lini bisnis nya memang penyediaan soft infrastructure (ICT) logistics.

Masih banyak yang sedang dan akan terus dikerjakan menuju visi besar tersebut. Tapi hari ini langkah berani telah dimulai dengan memunculkan portal INAPORTNET dengan harapan mengirimkan kabar baik bagi pelaku logistik bahwa pemerintah sedang bekerja agar terwujud portal elektronis logistik secara cepat. Pada akhir tahun ini juga adanya portal elektronis untuk semua layanan di PRIOK diharapkan dapat terwujud.

Tentang ILCS dan Logistik Indonesia

Semua yang kita konsumsi atau produksi harus melalui proses logistik. Dengan demikian harga, kualitas dan kecepatan penyampaian barang ditentukan oleh kualitas mata rantainya mulai dari gudang, transportasi darat, pelabuhan, kapal laut/udara, serta jasa-jasa pendukungnya seperti teknologi informasi.

Logistik adalah perekonomian itu sendiri. Tidak ada suatu negara bisa maju perekonomiannya tanpa kehadiran sistem logistik yang maju pula.

Saat ini sistem logistik Indonesia belum bisa dibanggakan antara lain tercermin dari Index Performansi Logistik Indonesia yang pada 2011 lalu di peringkat 59 (bandingkan dengan Malaysia: 29 atau Thailand 38)

Ketidak efisienan itu mengakibatkan biaya logistik kita mencapai 24% dari GDP (bandingkan dengan Korea yang 16% atau AS 10%). Hal ini menimbulkan biaya tinggi yang menghambat daya saing produsen barang.

Logistik adalah industri dengan mata rantai sangat panjang. Satu siklus proses ekspor impor, misalnya, melibatkan 40 institusi dengan 100 jenis dokumen yang dipertukarkan. Upaya keras beberapa pelaku logistik untuk mengefisienkan dirinya tidak optimal apabila tidak terintegrasi dengan pemain pada rantai berikutnya. Tidak heran, isu pertukaran dokumen tunggal secara nasional dan internasional selalu menjadi agenda penting banyak negara.

Beberapa pemain kunci pada mata rantai logistik telah mengambil berbagai upaya untuk meningkatkan performansi logisik. Instansi pemerintah, Operator Pelabuhan, telah mengambil banyak langkah terobosan. Penetrasi teknologi informasi di instansi tersebut salah satu yang termaju di Indonesia. Tetapi, tidak semua pemain memiliki kemampuan setara sehingga secara total performansi logistik kita tertinggal. Menurut Bank Dunia (2011), meski proses pabean untuk ekspor hanya 1 (satu) hari, tetapi total yang dirasakan eksportir waktu masih 17 hari.

Untuk itu, sangatlah strategis upaya untuk mengintegrasikan aliran informasi, dokumen dan pembayaran antara para pemain sehingga tercipta sistem logistik yang efisien, cepat, aman dan kompetitif. Menyadari hal ini, pemerintah telah meluncurkan cetak biru Sistem Logistik Nasional (SISLOGNAS) yang salah satu program strategisnya adalah membangun e-logistic untuk mewujudkan visi logistik 2025: locally integrated, globally connected for national competitiveness and social welfare Pada latarbelakang inilah TELKOM dan IPC memunculkan ILCS (Indonesia Logistics Community Service), sebuah inisiatif strategis yang didedikasikan kepada dunia logistik Indonesia agar berdaya saing, menjadi the Next Logistics, kelas dunia.

ILCS hadir dengan tujuan menghadirkan platform kolaborasi para pemain logistik yang memungkinkan terjadinya pertukaran dokumen dan informasi secara real time, aman, murah dan efektif yang terintegrasi dengan sistem pembayaran. Dalam menyelenggarakan misi tersebut, ILCS memiliki layanan yang didekasikan kepada komunitas logistik Indonesia yakni Layanan Alih Kelola ICT Logistik, Layanan Alih Kelola Proses Bisnis Logistik, Layanan e Billing& e Paymen, Layanan Pengelolaan Portal, Layanan Konsultasi & Informasi serta Layanan e Commerce Semua layanan tersebut melibatkan alih kelola ICT logistik secara kreatif sehingga pelaku logistik dapat fokus kepada usaha masing masing karena mengetahui ICT mereka terkelola dengan baik, aman dan selalu tersedia sesuai kebutuhan bisnis.

Keunggulan ILCS lahir dari sinergi dengan induk usaha yakni TELKOM dan IPC yang merupakan BUMN terdepan pada ICT dan Port di Indonesia.

Nilai ILCS lahir dari kolaborasi para pelaku logistik mulai dari forwarding, pergudangan, perkapalan, pelabuhan, transportasi. Nilai tambah dari kolaborasi tersebut pada akhirnya akan kembali kepada pelaku logistik itu sendiri dan kepada daya saing perekonomian bangsa. Untuk mewujudkan hal tersebut, kami mengajak semua pelaku logistik untuk bersama mewujudkan the Next Logistics di Indonesia melalui penggunaan dan kolaborasi layana ICT kelas dunia.

Frequently Asked Questions

1.  Apa sebenarnya ILCS ?
ILCS (Indonesia Logistics Community Service) adalah perusahaan penyedia jasa portal  dan layanan teknologi informasi untuk pelaku industri logistik di Indonesia seperti pelabuhan, transportasi, forwarding, pergudangan. ILCS adalah anak perusahaan IPC (Pelindo 2) dan TELKOM.

2. Mengapa ILCS ada ?
Mata rantai logistik yang panjang dan melibatkan banyak pemain dan dokumen memerlukan mekanisme integrasi secara elektronis atau portal e logistik untuk memfasilitasi pertukaran informasi, dokumen, pembayaran.  Hal ini umum ditemui di negara negara yang ekonominya sudah maju. Di Indonesia hal ini belum ada. TELKOM sebagai penyedia layanan ICT terdepan di Indonesia dan IPC sebagai pengelola pelabuhan terbesar di Indonesia, melihat peluang tersebut dan sepakat mendirikan ILCS

3. Apa layanan ILCS ?
Ada 6 portfolio layanan ILCS yakni Layanan Alih Kelola ICT Logistik, Layanan Alih Kelola Proses Bisnis Logistik, Layanan e Billing& e Paymen, Layanan Pengelolaan Portal, Layanan Konsultasi & Informasi serta Layanan e Commerce

Nilai tambah layanan ILCS adalah integrasi/kolaborasi ICT melalui mana para pemain logistik melakukan pertukaran informasi, dokumen dan pembayaran. Layanan Business to Business ini terintegrasi dengan layanan Business to Government mencakup logistik domestik dan international.

4. Siapa pelanggan ILCS ?
Pelanggan ILCS adalah semua pelaku dan pemilik logistik Indonesia seperti: port, shipping, warehousing, transportation, forwarding. Untuk tahap awal dimulai dari pelaku logistik yang berhubungan dengan Pelabuhan Tanjung Priok dan mulai 2013 mulai melayani komunitas diluar Tanjung Priok.

5. Bagaimana menjadi pelanggan ILCS ?
Mendaftar langsung di portal ILCS di www.ilcs.co.id

6. Berapa biaya menjadi pelanggan ILCS ?
Tidak dikenakan biaya. Cukup mendaftar di portal/web ILCS, www.ilcs.co.id